Sejarah Pramuka

Sejarah pramuka adalah hal yang harus Anda tahu sebagai pelajar. Pramuka sendiri menjadi salah satu kegiatan yang wajib Anda ikuti di lingkungan sekolah.

Pramuka merupakan organisasi non formal yang bergerak di bidang pendidikan kepanduan di Indonesia. Pramuka sendiri adalah singkatan dari Praja Muda Karana yaitu rakyat muda yang gemar berkarya.

Gerakan ini tidak hanya terdapat di Indonesia karena di dunia internasional Pramuka juga diakui dengan istilah kepanduan (boy scout).

Sejarah Pramuka di negeri ini tentu saja tidak dapat dilepaskan dari gagasan Robert Baden Powell. Beliau merupakan warga negara Inggris yang pertama kali menerapkan ide pembinaan remaja di negaranya.

Konsep pembinaan remaja itulah yang pada akhirnya berkembang menjadi gerakan kepanduan. Atas jasanya, Robert Baden Powell kemudian diangkat sebagai bapak pandu sedunia.

Di bawah ini adalah sejarah pramuka di Indonesia. Baik dari sejarah pramuka pada masa penjajahan Belanda dan sejarah pramuka pasca kemerdekaan.

Sejarah Pramuka Indonesia Masa Penjajahan

Sejarah Pramuka Indonesia Masa Penjajahan

Sebagai bapak pandu sedunia, Robert Baden Powell mencoba untuk menyebarkan gerakan ini ke seluruh penjuru dunia.

Oleh karena itu, Ia menuliskan semua ide cemerlangnya tentang kepramukaan dalam sebuah buku berjudul “Scouting for Boys”.

Buku ini segera menyebar ke berbagai negara tidak terkecuali Belanda yang dikenal dengan nama “Padvinder”.

Pada masa itu, wilayah Indonesia masih termasuk ke dalam kekuasaan Belanda. Dengan demikian, ide-ide kepramukaan yang berkembang di negeri Belanda juga dibawa ke Indonesia.

Kemudian, didirikanlah cikal bakal gerakan pramuka pada masa kolonial bernama NIPV (Nederland Indische Padvinders Vereeniging).

Apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kepanjangan singkatan di atas berarti Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda.

Seiring berjalannya waktu, keberadaan organisasi NIPV akhirnya menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan nasional untuk mendirikan gerakan kepanduan khusus anak bangsa.

Kemudian, muncullah banyak gerakan Padvinders di Indonesia.

Diantaranya adalah JPO (Javaanse Padvinders Orgcmizatie), JJP (Jong Java Padvindery), NATIPIJ (Nationale Islamftsche Padvinderzj).

Selain ketiga organisasi ini, masih ada dua gerakan kepanduan lannya yaitu SIAP (Sarekat Islam Afdeling Padvindery) serta Padvinders Muhammadiyah.

Nama terakhir inilah yang sekarang Anda kenal dengan nama HW atau Hizbul Wathan.

Selanjutnya, sejarah Pramuka Indonesia juga mencatat bahwa gerakan kepanduan juga berperan aktif dalam upaya menyelenggarakan Kongres Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Atas usulan salah satu tokoh pergerakan waktu itu yaitu KH Agus Salim, maka istilah Padvinders diganti menjadi pandu atau kepanduan.

Pergantian istilah ini juga sebagai respon mengenai larangan penggunaan istilah Padvindery oleh pemerintah kolonial Belanda.

Setelah peristiwa Sumpah Pemuda, kesadaran nasional cenderung meningkat. Ini dapat dibuktikan dengan lahirnya berbagai organisasi yang bersifat kepemudaan tidak terkecuali kepanduan.

Pada tahun 1930, lahirlah organisasi kepanduan seperti IPO, PK (Pandu Kesultanan) dan PPS (Pandu Pemuda Sumatera).

Ketiga organisasi kepanduan ini kemudian bergabung menjadi satu dan dikenal dengan nama KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia).

Pada tahun 1931, organisasi ini resmi berganti nama menjadi PAPI (Persatuan Antar Pandu Indonesia).

Berikutnya, di tahun 1938 PAPI kembali berubah nama menjadi BPPKI (Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia).

Setelah masa penjajahan Belanda berakhir, gerakan kepanduan sempat dilarang oleh pemerintah Jepang. Larangan ini dikarenakan gerakan pandu ikut bahu membahu berjuang mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Sejarah Pramuka Indonesia Pasca Kemerdekaan

Sejarah Pramuka Indonesia Pasca Kemerdekaan

Kegiatan kepanduan Indonesia setelah kemerdekaan berkembang semakin pesat. Diawali dengan terbentuknya organisasi Pandu Rakyat Indonesia (PRI) di Solo pada 28 Desember 1945.

Pada masa itu, PRI merupakan satu-satunya organisasi kepanduan resmi yang ada di Indonesia. Kedudukan tersebut diperkuat dengan adanya Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan.

Keputusan Menteri tersebut tertanggal 1 Februari 1947 dan bernomor 93/Bhg.A.

Akan tetapi, pada tahun 1950 Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan memberlakukan peraturan baru yaitu Keputusan Menteri Nomor 23441/kab tertanggal 6 September 1951.

Pemberlakuan keputusan ini, akhirnya memberi ruang untuk berdirinya organisasi kepanduan selain Pandu Rakyat Indonesia.

Pada tanggal 16 September 1951, terbentuklah IPINDO (Ikatan Pandu Indonesia) yang kemudian diterima menjadi anggota International Conference (Organisasi Kepanduan Dunia).

Selanjutnya, IPINDO juga mewakili Indonesia dalam Far East Regional Scout Officer pada tahun 1953. Periode selanjutnya tepatnya di tahun 1954, kembali terbentuk dua organisasi kepanduan khusus wanita.

Kedua organisasi kepanduan yang dimaksud adalah POPPINDO (Persaudaraan Organisasi Pandu Puteri Indonesia) dan PKPI (Persaudaraan Kepanduan Puteri Indonesia).

Dalam perkembangannya, dua organisasi kepanduan wanita ini kemudian melebur menjadi satu di bawah bendera PERKINDO (Persatuan Kepanduan Indonesia).

Perkembangan Gerakan Pramuka di Indonesia

Perkembangan Gerakan Pramuka di Indonesia

Sejarah Pramuka Indonesia mengalami masa keemasannya pada tahun 1950-1960. Masa keemasan ini ditandai dengan keberadaan 100 organisasi kepanduan yang terhimpun ke dalam tiga federasi.

Ketiga federasi yang dimaksud adalah IPINDO, POPPINDO dan PKPI. Kemudian, pada tanggal 9 Maret 1961, Presiden Soekarno memberikan amanat kepada pemimpin pandu di Istana Merdeka.

Pada kesempatan itu, Presiden Soekarno secara resmi membubarkan kegita organisasi tersebut dan meleburnya menjadi satu ke dalam gerakan Pramuka.

Presiden Soekarno juga mengukuhkan tunas kelapa sebagai lambang yang mewakili gerakan Pramuka Indonesia.

Melalui bantuan Perdana Menteri Ir Juanda maka lahir Keputusan Presiden Nomor 238 Tahu 1961 tentang gerakan Pramuka.

Keputusan Presiden tersebut kemudian ditanda tangani oleh Ir Juanda selaku pejabat yang mewakili Presiden Soekarno pada tanggal 20 Mei 1961.

Selanjutnya, barulah pada tanggal 14 Agustus 1961 gerakan Pramuka resmi diperkenalkan kepada rakyat.

Pada kesempatan ini, Presiden juga memberi anugerah panji-panji kehormatan kepada para pandu yang ikut serta memperjuangkan kemerdekaan.

Sejak saat itulah sejarah Pramuka di Indonesia mulai diakui secara resmi dan diperingati setiap tahun pada tanggal 14 Agustus.

Kemudian, Sri Sultan Hamengku Buwono IX ditetapkan sebagai Bapak Pramuka Indonesia. Penetapan ini dilakukan dengan berdasarkan Surat Keputusan Musyawarah Gerakan Pramuka tahun 1988 di Dili, Timor Timur.

Demikian dari kami theinsidemag.com yang dapat disampaikan. Apabila ada kekurangan mohon maaf, semoga dapat membantu pengetahuan Anda!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *