Kusuma Hamba Allah yang ingin menjadi orang bermanfaat bagi umat muslimin dan muslimat di dunia. Suka travelling dan wisata kuliner.

Tari Kipas

4 min read

Tari Kipas

Tari Kipas Pakarena merupakan sebuah tari tradisional yang berasal dari Sulawesi Selatan. Tarian indah dengan gerakan yang menarik.

Dari namanya saja sudah jelas ya, tari ini menggunakan kipas sebagai komponen utamanya. Kalian sendiri sudahkah pernah melihat tari kipas ini?

Fyi, Sulawesi Selatan adalah salah satu provinsi yang memiliki banyak suku bangsa dan budaya. Konon, Sulawesi Selatan memiliki sebanyak 316 jenis tarian. Wow!

Diantaranya adalah 98 jenis tarian adat orang Bugis, 116 tarian orang Mandar, 36 tarian orang Toraja dan 66 milik orang Makassar.

Sungguh kaya akan budaya tarian bukan? Berlimpah sekali tarian-tarian dari Sulawesi Selatan yang menjadi keanekaragaman di Indonesia.

Namun, dari sekian banyaknya tarian tersebut, di artikel ini akan membahas mengenai tari kipas pakarena saja. Tarian ini cukup dikenal oleh banyak masyarakat Indonesia.

Tari pakarena sendiri biasa dihadirkan dalam berbagai acara, baik acara adat maupun acara hiburan semata, sungguh menariknya.

Bahkan, tarian ini disebut sebagai salah satu daya tarik wisata di Gowa. Tarian yang diiringi dengan gandrang pakarena ini berasal dari Gowa, Sulawesi Selatan.

Untuk mengenal lebih jauh tari kipas pakarena, akan dijelaskan dari pengertian, sejarah, gerakan, properti, hingga keunikan tari pakarena.

Pengertian Tari Kipas

Tari Kipas Pakarena adalah tarian tradisional yang diiringi oleh 2 (dua) kepala drum (gandrang) dan sepasang instrument alat semacam suling (puik-puik).

Tari pakarena di Sulawesi Selatan ada di dua kabupaten. Dimana saja letaknya?

Selain tari kipas pakarena asal Gowa yang pernah dimainkan oleh maestro tari pakarena Maccoppong Daeng Rannu, ada juga tari pakarena lain tang berasal dari Kepulauan Selayar (Tari Pakarena Gantarang).

Disebut dengan Tari Pakarena Gantarang karena tarian ini berasal dari sebuah perkampungan yang merupakan pusat kerajaan di Pulau Selayar masa lalu, yaitu Gantarang Lalang Bata.

Tarian yang dimainkan oleh ± 4 orang penari perempuan ini, pertama kali ditampilkan pada abad ke 17 tepatnya tahun 1903 saat Pangali Patta Raja dinobatkan sebagai Raja di Gantarang Lalang Bata.

Pakarena adalah bahasa setempat berasal dari kata Karena yang artinya main. Tarian ini men-tradisi di kalangan masyarakat Gowa yang merupakan wilayah bekas Kerajaan Gowa.

Baca juga: Seni Tari

Sejarah Tari Kipas Pakarena

Sejarah Tari Kipas Pakarena

Dimulai dari kerajaan Gowa yang mana berdasarkan catatan sejarah tarian ini merupakan peninggalan kerajaan. Pada masa kejayaannya tarian ini mulai berkembang pula.

Masyarakat meyakini bahwa Tari Pakarena Gantarang berkaitan dengan munculnya Tumanurung. Tumanurung merupakan bidadari yang turun dari langit untuk memberi petunjuk kepada manusia.

Petunjuk yang diberikan tersebut berupa simbol-simbol gerakan kemudian dikenal sebagai Tari Pakarena Gantarang.

Hal senada juga dituturkan oleh salah seorang pemain Tari Pakarena Makassar Munasih Nadjamuddin.

Beliau mengatakan bahwa Tari Pakarena berawal dari kisah perpisahan penghuni botting langi (Negeri Kayangan) dengan penghuni lino (bumi) pada zaman dahulu.

Sebelum berpisah, botting langi mengajarkan kepada penghuni lino mengenai tata cara hidup, bercocok tanam, hingga cara berburu lewat gerakan tangan, badan dan kaki.

Gerakan inilah yang kemudian menjadi tarian ritual ketika penduduk di bumi menyampaikan rasa syukur pada penghuni langit.

Baca juga: Pengertian Seni Tari

Siapa Pencipta Tari Pakarena?

Tari kipas pakarena berasal dari Gowa, Sulawesi Selatan. Lalu, siapa pencipta tari pakarena?

Pencipta Tari Pakarena adalah Andi Ummu Tunru. Beliau merupakan putri dari pasangan Andi Bau Tunru Karaeng Kaluarrang dan Hj. Andi Humaya Tunru Petta Pudji.

Ia mulai menari sejak berusia tujuh tahun. Pada usia sembilan tahun, ia belajar menari tradisi Bugis-Makassar kepada guru-guru tari di lingkungan kerajaan.

Makna Tari Kipas

Makna Tari Kipas

Terlepas dari beberapa sejarah beserta mitos munculnya Tari Kipas tersebut, secara umum tarian ini mempunyai makna yang sangat dalam tentang bagaimana sikap hidup masyarakat Gowa.

Penarinya yang berasal dari kaum perempuan membawakan gerakan-gerakan yang menggambarkan ekspresi kesantunan, kesetiaan, kelembutan, kepatuhan dan sikap hormat.

Hal diatas mencirikan seperti wanita Gowa pada umumnya. Sementara para pria yang bertugas menabuh alat musik untuk mengiringi tarian dengan gerakan-gerakan cepat menunjukan laki-laki Gowa adalah tangguh.

Dari makna filosof tersebut dapat disimpulkan bahwa selain menjadi sarana hiburan rakyat, Tari Kipas Pakarena juga dapat menjadi simbol kehidupan masyarakat Gowa secara umum.

Fungsi Tari Kipas

Fungsi Tari Kipas

Dapat disimpulkan bahwa fungsi tari kipas ini dulunya dijadikan sebagai wujud rasa syukur kesultanan Gowa setelah mendapatkan hasil panen.

Acara adat dan persembahan semacam ini juga dikenal oleh kalangan masyarakat di daerah lain sebagaimana sejarah tari piring dan asalnya yang dipertunjukkan sebagai ungkapan rasa syukur.

Seiring dengan perkembangan zaman dan runtuhnya kerajaan Gowa pada kisaran abad XVIII perlahan jenis tarian dipertunjukkan lebih mengarah sebagai bentuk hiburan.

Bahkan saat ini tarian ini tidak hanya dikenal oleh masyarakat Gowa saja melainkan dikenal oleh masyarakat di seluruh Nusantara.

Hal ini tentunya tidak lepas dari peran para seniman tari yang kerap mementaskan kesenian tarian tradisional Gowa, Sulawesi Selatan.

Unsur-Unsur Tari Kipas Pakarena

Dalam pembawaan tari pakarena, ada beberapa hal yang berkaitan dengan tarian ini. Mungkin, beberapa juga harus dipahami terkait unsur-unsurnya.

Untuk lebih lanjut mengenai pemahaman unsur-unsur tari kipas pakarena adalah penjelasannya sebagai berikut. Semoga lebih paham ya.

1. Tema

Tema tari pakarena adalah cerita rakyat, yang mana berkisah tentang perpisahan penghuni botting langi (Negeri Kayangan) dengan penghuni lino (bumi) pada zaman dahulu.

Masyarakat meyakini bahwa tari kipas pakarena berkaitan dengan kemunculan Tumanurung. Tumanurung adalah bidadari yang turun dari langit untuk memberikan petunjuk kepada manusia.

2. Penari

Penari dalam tari kipas pakarena adalah wanita dewasa. Dengan 4 penari atau lebih, dengan usia penari tidak ada batasan, kira-kira 15 s.d 80 tahun. Dengan peran sebagai Tumanurung.

3. Gerakan

Gerakan dalam tari kipas pakarena termasuk dalam gerak maknawi, karena gerakan tarian ini sangat artistik dan sarat makna, halus bahkan sangat sulit dibedakan satu dengan lainnya.

Tarian ini terbagi dalam 12 bagian, setiap gerakan memiliki makna khusus. Posisi duduk, menjadi pertanda awal dan akhir tarian pakarena.

Gerakan berputar mengikuti arah jarum jam, menunjukkan siklus kehidupan manusia. Sementara, gerakan naik turun, tak ubahnya cermin irama dalam kehidupan.

Aturan mainnya, seorang penari pakarena tidak diperkenakan membuka matanya terlalu lebar. Demikian pula dengan gerakan kaki, tidak boleh diangkat terlalu tinggi.

Hal ini berlaku sepanjang tarian berlangsung yang memakan waktu sekitar 2 jam. Sebuah cerminan wanita Sulawesi Selatan. Gandrang Pakarena adalah tampilan kaum pria Sulawesi Selatan yang keras.

Ragam gerak tari kipas pakarena adalah:

  • Sambori’na (berteman).
  • Ma’biring kassi’ (bermain ditepi pantai).
  • Anging kamalino (angin tanpa berhembus).
  • Digandang (berulang-ulang).
  • Jangan lea-lea (ayam yang mundur-mundur sementara berkelahi).
  • Iyale’ (sebelum menyanyi ada seperti aba-aba) nyanyian tengah malam.
  • So’naya (yang bermimpi).
  • Lambbasari (hati timur).

4. Properti Tari Kipas

Properti dalam tari kipas pakarena adalah:

  • Kipas.
  • Baju pahang.
  • Sampur.
  • Gelang khas Sulawesi.
  • Kalung.

5. Tata Rias dan Busana

Untuk kostum dari penari tari kipas pakarena adalah baju pahang (tenunan tangan), lipa’ sa’be (sarung sutra khas Sulawesi Selatan.

Dan, perhiasan-perhiasan khas Kabupaten Selayar Kipas berukuran besar. Tatanan rambut penari tari pakarena adalah digelung dengan tambahan hiasan khas Sulawesi yang memperindah tampilan rambut penari.

6. Musik Pengiring Tarian

Musik yang digunakan untuk mengiringi tarian ini adalah sebuah alat musik tradisional yang dinamakan grondong rinci. Komponen terdiri dari genderang serta seruling.

Jumlah pemain yang memainkan musik pengiring ini adalah 4-7 orang pemain musik. Sebagian pemain musik memainkan seruling dan sebagian pemusik lainnya memainkan gendang.

Walaupun tarian ini dimainkan dengan ciri lemah lembut, namun ritme yang dimainkan oleh para pemusik bertempo lebih cepat.

Selain itu, gerakan yang dimainkan oleh penari juga teratur dan berkembang. Sehingga hal inilah yang menjadikan salah satu keunikan tari kipas ini.

7. Setting Panggung

Tari kipas kerap dimainkan oleh 5 orang penari wanita. Hanya saja sebenarnya tidak ada aturan baku yang mengatur berapa jumlah penari yang boleh ada di atas panggung.

Kadang kala, penari sendiri bisa berjumlah hingga 10 orang. Jumlah tersebut belum termasuk para penabuh alat musik yang berada di samping kanan atau kiri panggung.

Itulah tadi merupakan penjelasan singkat dan jelas mengenai beberapa materi mengenai tari kipas pakarena. Dari mulai pengertian hingga properti tariannya.

Semoga beberapa materi tadi dari kami theinsidemag.com dapat Anda jadikan sebagai acuan pembelajaran. Semangat!

Kusuma Hamba Allah yang ingin menjadi orang bermanfaat bagi umat muslimin dan muslimat di dunia. Suka travelling dan wisata kuliner.

Rumah Adat Jambi

Kusuma
3 min read

Rumah Adat Riau

Kusuma
3 min read

Rumah Adat Kepulauan Riau

Kusuma
4 min read

3 Replies to “Tari Kipas”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *