Kusuma Hamba Allah pengejar surga yang ingin menjadi orang bermanfaat bagi umat muslimin dan muslimat di dunia. Suka travelling dan wisata kuliner.

Tari Legong

5 min read

Tari Legong

Tari Legong berasal dari Pulau Dewata Bali. Sebuah tarian khas Indonesia yang memiliki gerakan indah dan alunan musik syahdu.

Bali adalah salah satu pulau yang kaya akan budaya Indonesia dan merupakan salah satu provinsi dengan tingkat wisatawan paling tinggi.

Menjadi salah satu objek wisata di Indonesia yang dikenal di kancah internasional, Bali berperan penting dalam mengembangkan kepariwisataan daerah ini.

Tak hanya wisata, tarian daerah Bali-pun melimpah ruah. Salah satu contoh tariannya adalah tari legong, tak kalah dari tari kecak.

Kerlingan mata yang ekspresif di antara gerakan luwes sang penari langsung mengingatkan semua orang akan ciri khas tarian Bali.

Tidak mengherankan memang, karena tingkat popularitas tarian ini berada jauh di atas tari-tarian tradisional asal Bali yang lainnya.

Untuk itu di bawah akan dijelaskan lebih lanjut mengenai pengertian, sejarah, fungsi, properti, komposisi, keunikan dan hal lainnya dari tari legong.

Pengertian Tari Legong

Pengertian Tari Legong

Pengertian tari legong adalah tarian yang gerakannya terikat dengan musik pengiringnya, yaitu gamelan. Asal usul kata legong seperti apa sih?

Kata Legong diambil dari kata “leg” yang artinya gerakan tari yang luwes, dan kata “gong” diambil dari kata alat musik tradisional pengiring tarian ini yakni gamelan.

Tarian ini pada umumnya dimainkan oleh sekelompok penari wanita. Gerakan dari tarian ini cukup kompleks dengan menyatukan antara gerakan dengan iringan musik gamelan.

Jika di pahami lebih jauh, gerakan-gerakan kompleks tersebut konon katanya merupakan akibat dari adanya gambuh.

Jadi dapat disimpulkan, gerakan-gerakan tari legong ini terutama gerakan aksennya, bersenyawa dengan bunyi gamelan yang mengiringinya.

Sejarah Tari Legong

Tari ini muncul pada kisaran abad ke 19 M yang diawali seorang Raja Sukawati bernama I Dewa Agung Made Karna. Ide awal konon bermula dari mimpi raja yang sakit keras.

Raja mimpi melihat 2 gadis menari dengan lemah gemulai diiringi gamelan yang indah. Ketika ia pulih, mimpi tersebut dituangkan dalam repertoar dengan gamelan lengkap.

Ada juga yang mengatakan bahwa Batari Giriputri melahirkan 2 putri dari kedua betisnya kemudian diturunkan kebumi untuk mengajarkan Tari Legong (Bandem 1994).

Lalu, Suartaya (2011) memaparkan Babad Sukawati yang menyodorkan kisah raja Sukawati. Pada abad 19 M, beliau semedi, didalamnya ada bidadari sedang menari gemulai.

Kejadian tersebut diterjemahkan para seniman Kraton Sukawati menjadi karya seni topeng. Tari ini disakralkan dan menyebutnya Topeng Legong.

Dulu Legong adalah tari sakral yang dipentaskan di pura sebagai sarana upacara Agama Hindu. Penarinya dikenakan topeng dan harus melaksanakan taksu sebelum pementasan.

Terkadang tari ini juga dipentaskan untuk hiburan Raja dan bangsawan di Puri Agung Peliatan. Dikatakan pula, penari legong adalah dua gadis suci sebelum menstruasi menari di bawah sinar purnama.

Kemudian, merka dilengkapi dengan kipas. Ada juga beberapa tari lenggong tanpa tambahan kipas yang disebut Condong.

Tahun 1928, perkembangan tari ini semakin surut, akhirnya raja mengijinkan tarian dipentaskan diluar puri. Namun, usaha tersebut tidak berhasil akibat serangan Belanda abad 19 M.

Di beberapa referensi disebutkan popularitas tari legong juga diakibatkan oleh maraknya tari kebyar dari bagian utara Bali.

Usaha revitalisasi baru dimulai sejak akhir tahun 1960-an, dengan menggali kembali dokumen lama untuk rekonstruksi.

Tahun 1970 dapat dikatakan zaman keemasan seni pertunjukan di Bali. Salah satu tarian itu adalah tari legong yang termasuk dalam jenis seni Balih-Balihan.

Perkembangan Tari Legong

Semenjak abad 19 M, ada pergeseran Legong berpindah dari istana ke desa. Wanita yang pernah mengalami latihan di istana kembali mengajarkan tari legong kepada generasi berikutnya.

Banyak kelompok terbentuk di daerah Gianyar salah satunya. Guru tari ini juga banyak bermunculan, dari desa Saba, Bedulu, Peliatan, Klandis, dan Sukawati.

Muridnya didatangkan dari seluruh Bali untuk mempelajari tarian ini, kemudian mengembangkan ke desa. Legong menjadi bagian utama setiap upacara odalan di desa.

Di perkembangan selanjutnya, tari lenggong bukan lagi kesenian istana, melainkan menjadi milik masyarakat umum. Pengaruh istana makin melemah sejak Bali jatuh ke Belanda.

Di desa, kini Legong dipergelarkan jika diperlukan untuk kepentingan upacara  keagamaan. Leluhurnya, Sang Hyang, dipentaskan berhubungan dengan kepercayaan animisme.

Adapun nenek moyangnya yang lain, yaitu Gambuh mengungkapkan artikulasi idea dari Majapahit. Mulanya, legong berhubungan dengan agama Hindu istana namun sekarang agama Hindu Dharma.

Tari Legong masih ditarikan oleh anak gadis dari desa tertentu pada sebuah kalangan yang sudah diupacarai sehubungan dengan upacara keagamaan.

Kalangan sering dibuat diluar halaman tempat persembahyangan walaupun masih diorientasikan dengan dua arah kaja dan kelod sebagai arah yang angker dalam kepercayaan orang Bali.

Yang paling pokok adalah Legong dipersembahkan sebagai hiburan bagi masyarakat yang berpartisipasi dalam upacara keagamaan.

Tema dan Makna

Jika di urut dari awal cikal bakal kemunculannya, yakni tari Sang Hyang, tari lenggong dianggap memiliki makna yang berkaitan dengan nilai-nilai keagamaan dan sejarah.

Tari legong diyakini sebagai perwujudan rasa syukur dan terimakasih masyarakat Bali terhadap leluhurnya yang telah mewariskan banyak peninggalan.

Namun, apabila dikaitkan dengan kehidupan masa kini, tari legong dianggap tidak lebih dari sekedar sarana hiburan semata.

Baca juga materi lainnya:
1. Tari Tradisional
2. Tari Bali
3. Tari Saman
4. Tari Merak
5. Tari Topeng

Komponen Tari Legong

Komponen Tari Legong

Adapun untuk komponen pembentuk dari tari lenggong dan penjelasan secara lengkap adalah sebagai berikut ini. Dari mulai setting panggung sampai dengan busana tariannya.

1. Iringan Tarian

Seperti yang telah di bahas di atas, dari mulai asal usul hingga perkembangannya bahwa tari legong diiringi oleh tetabuhan gamelan Bali.

Gamelan yang mengiringi ini dinamakan Gamelan Semar Pagulingan. Bunyi instrumen-instrumen yang disajikan gamelan harus diikuti sesuai dengan pakem kesesuaian penarinya.

Kesesuaian tersebut juga sesuai dengan penguasaan jalinan wirama, wiraga, dan wirasa yang baik.

2. Setting Panggung

Dalam aturan pakemnya, tari legong disajikan oleh 2 orang penari perempuan yang masih gadis dan belum mengalami masa menstruasi.

Tarian ini dipentaskan di halaman keraton tepat di bawah sinar bulan purnama. Kendati demikian, karena tujuannya kini beralih sebagai sarana hiburan.

Pakem tersebut sedikit diabaikan. Baik dari penarinya, tempat, maupun waktu pementasan bisa diatur tanpa mengikuti pakemnya.

3. Tata Rias dan Tata Busana

Kemudian pembahasan komponen utama dalam tarian ini adalah mengenai busana tari legong. Penari legong wajib mengenakan pakaian adat Bali lengkap beserta perniknya.

Kostum khas legong sendiri wajib berwarna cerah, seperti merah, hijau, ataupun warna cerah lainnya. Sementara aksesoris nya adalah hiasan kembang goyang.

Ada aksesoris tambahan yakni rangkaian bunga melati di kepala yang akan ikut bergoyang ketika penarinya menggerakan tubuhnya.

4. Properti Tari

Untuk aksesoris tambahan di dalam tari legong ini adalah sebuah kipas. Tapi perlu diingat, ada beberapa tari yang tidak menggunakan kipas dalam legong ini.

Namun, tetap saja kipas ini menjadi properti penting yang dapat menambah nilai estetis dalam setiap gerakan yang dipertunjukan oleh penari tarian khas Bali ini.

Baca pula materi tari lainnya:
1. Tari Pendet
2. Tari Seudati
3. Tari Yapong
4. Tari Gambyong
5. Tari Tor Tor

Macam-Macam Tari Legong

Macam-Macam Tari Legong

Adapun berikut ini adalah macam-macam dari tari legong:

  1. Legong Lasem (Kraton).
  2. Legong Jobog.
  3. Legong Legod Bawa.
  4. Legong Kuntul.
  5. Legong Smaradahana.
  6. Legong Sudarsana.
  7. Legong Playon.
  8. Legong Untung Surapati.
  9. Legong Andir (Nadir).
  10. Sang Hyang Legong atau Topeng Legong.

Itulah tadi merupakan 10 macam tari legong yang semoga bisa dijadikan acuan untuk makalah tari legong.

Gamelan Semar Pagulingan

Gamelan yang dalam lontar Catur Muni-Muni disebut dengan gamelan semara aturu ini adalah barungan madya, yang bersuara merdu sehingga banyak dipakai untuk menghibur raja.

Karena kemerduannya, gamelan Semar Pagulingan (semar=semara, pagulingan=peraduan) konon biasa dimainkan pada malam hari ketika raja akan ke peraduan (tidur).

Kini gamelan bisa dimainkan sebagai sajian tabuh instrumental maupun mengiringi tari-tarian/teater. Masyarakat Bali mengenal dua macam Semar Pagulingan:

  • Semar Pagulingan yang berlaras pelog 7 nada.
  • Semar Pagulingan yang berlaras pelog 5 nada.

Kedua jenis Semar Pagulingan secara fisik lebih kecil dari barungan Gong Kebyar terlihat dari ukuran instrumennya Gangsa dan trompongnya yang lebih kecil daripada yang ada dalam Gong Kebyar.

Instrumentasi gamelan Semar Pagulingan (milik STSI Denpasar) meliputi:

Gamelan Semar Pagulingan

Instrumen yang memegang peranan penting dalam barungan ini adalah trompong yang merupakan pemangku melodi.

Trompong mengganti peran suling dalam panggambuhan, dalam memainkan melodi dengan dibantu oleh rebab, suling, gender rambat dan gangsa barangan.

Sebagai pengisi irama adalah Jublag dan jegogan masing-masing sebagai pemangku lagu, sementara kendang merupakan instrumen yang memimpin perubahan dinamika tabuh.

Gending Semar Pagulingan banyak mengambil gending-gending Panggambuhan. Beberapa desa yang hingga masih aktif memainkan gamelan Semar Pagulingan adalah:

  1. Sumerta (Denpasar).
  2. Kamasan (Klungkung).
  3. Teges, Peliatan (Gianyar).

Apa Sih Keunikan Tari Legong?

Apa Sih Keunikan Tari Legong?

Adapun keunikannya adalah sebagai berikut:

  1. Gerak tarinya luwes.
  2. Campuran budaya Hindu dan agama Islam dalam bentuk gambuh.
  3. Pemakaian aksesoris kipas sebagai ciri khas keunikannya.
  4. Penari harus gadis sebelum menstruasi.
  5. Disajikan di bawah bulan purnama.

Itulah tadi merupakan beberapa keunikan dari sebuah tari legong, semoga bermanfaat ya gengs!

Baca juga tari lainnya:
1. Tari Piring
2. Tari Payung
3. Tari Serimpi

Kesimpulan

Legong merupakan sekelompok tarian klasik Bali yang memiliki pembendaharaan gerak yang sangat kompleks yang terikat dengan struktur tubuh pengiring yang konon pengaruh dari gambuh.

Legong dikembangkan di keraton-keraton Bali pada abad ke-19 paruh kedua.  Tari legong masih erat hubungannya dengan agama, baik dari sejarah maupun pertunjukan.

Gamelan yang dipakai mengiringi tarian ini dinamakan Gamelan Semar Pagulingan. Penari Legong yang baku adalah 2 gadis suci belum pernah menstruasi, dipentaskan di sinar purnama.

Kedua penari ini dilengkapi dengan kipas sebagai alat bantu. Beberapa tari legong terdapat seorang penari tambahan, disebut condong.

Terdapat sekitar 18 tari legong yang dikembangkan di selatan Bali, seperti Gianyar (Saba, Bedulu, Pejeng, Peliatan). Badung (Binoh dan Kuta), Denpasar (Kelandis), dan Tabanan (Tista).

Dalam perkambangan zaman, legong sempat kehilangan popularitas di awal abad 20 oleh maraknya tari kebyar dari bagian utara Bali.

Usaha-usaha revitalisasi baru dimulai sejak akhir tahun 1960-an, dengan menggali kembali dokumen lama untuk rekonstruksi.

Demikianlah dari kami theinsidemag.com apabila ada kesalahan dalam penulisan atau pembahasan harap dimaklumi.

Semoga Anda sebagai generasi bangsa dapat terus menjaga budaya Indonesia. Salam sukses semuanya!

Kusuma Hamba Allah pengejar surga yang ingin menjadi orang bermanfaat bagi umat muslimin dan muslimat di dunia. Suka travelling dan wisata kuliner.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *