Kusuma Hamba Allah pengejar surga yang ingin menjadi orang bermanfaat bagi umat muslimin dan muslimat di dunia. Suka travelling dan wisata kuliner.

Tari Seudati

4 min read

Tari Seudati

Tari Seudati adalah tari tradisonal yang cukup populer berasal dari Aceh. Mendengar kota Aceh sudah tidak asing bukan bagi klean gengs?

Selain terkenal sebagai serambi mekah yang identik dengan daerah Islami, Aceh juga memiliki kebudayan yang patut untuk dikorek lebih dalam. Salah satunya adalah Tari Seudati.

Tak jauh berbeda dengan tari Saman, salah satu tarian paling popular dari Aceh, tari ini juga dibawakan oleh sekelompok pria.

Gerakan tarian ini begitu energik dan khas serta diiringi dengan nada dan lantunan syair.

Namun yang membedakan gerakan tarian ini dengan tari Saman ialah posisi penari.

Para penari Seudati akan membawakan gerakan tari sembari berdiri.

Dimana gerakan tersebut melambangkan semangat, keteguhan serta jiwa kepahlawanan seorang pria Aceh.

Dulunya, Tari Seudati juga dijadikan sebagai sarana penyebaran agama Islam atau sarana dakwah.

Hal ini dikarenakan syair yang dilantunkan oleh para penari disisipi dengan nilai-nilai ajaran agama Islam.

Berikut ini akan kami jelaskan lengkap mulai dari sejarahnya hingga gerakan tariannya. Bisa kok Anda jadikan makalah tari seudati.

Sejarah Tari Seudati

Sejarah Tari Seudati

Perkembangan Seudati dimulai dari daerah pesisir Aceh, dimana tarian ini diyakini merupakan bentuk baru dari tarian lawasan Tari Ratoh (Ratih).

Tari Ratoh sendiri merupakan pertunjukan yang kerap dipentaskan untuk mengawali permainan sabung ayam.

Tak hanya itu, tarian ini juga kerap dipentaskan untuk menyambut panen dan ketika datangnya bulan purnama.

Setelah Islam datang ke Aceh, terjadilah proses akulturasi yang menjadikan tarian tradisional ini dikenal hingga saat ini.

Dimana tarian yang berkembang di Desa Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie ini diprakarsai oleh Syeh Tam.

Pada perkembangannya, Tari Seudati kemudian dikenal di Desa Didoh, Kecamatan Mutiara, Pidie di bawah asuhan Syeh Ali Didoh.

Baru kemudian tarian ini berkembang hingga ke wilayah Aceh Utara, Pidie, hingga ke seluruh penjuru Aceh.

Asal Kata Seudati

Penggunaan kata Seudati sebagai pengaman tari tradisional ini terjadi bukan tanpa alasan.

Namun dalam sejarah ada beberapa pendapat, yang pertama yakni penamaan ‘seudati’ berasal dari bahasa Arab yakni ‘syahadati’ atau ‘syahadatin’.

Kata tersebut memiliki makna syahadat atau pengakuan atas Allah sebagai tuhan yang Esa dan Muhammad sebagai Rasul-Nya.

Selain itu, ada pendapat lain yang menyatakan jika ‘seudati’ berasal dari kata bahasa Aceh yakni ‘seurasi’.

Kata tersebut memiliki makna kompak dan harmonis yang bisa dilihat dari gerakan Tari Seudati yang memperlihatkan kekompakan dan keharmonisan.

Fungsi Tari Seudati

Fungsi Tari Seudati

Selain sebagai media hiburan, pertunjukan tarian ini juga memiliki fungsi lain bagi masyarakat Aceh khususnya, yakni sebagai berikut.

1. Pembangkit Semangat

Dalam penggolongannya, Tari Seudati termasuk dalam kategori “Tribal War Dance” atau tarian perang.

Penggolongan ini dikarenakan syair yang dipenuhi dengan kata-katapembangkit semangat.

Oleh karena itu, pada jaman Pemerintahan Belanda dulu tarian ini sempat dilarang untuk dipentaskan.

Syair-syair pada tarian ini akan membuat pemuda Aceh memberontak pada pemerintah Belanda kala itu.

Hingga akhirnya tarian Seudati baru boleh dipentaskan kembali setelah Indonesia merdeka.

2. Sarana Dakwah Agama Islam

Selain sebagai penyemangat, syair yang dinyanyikan para penari Seudati juga berisikan ajaran agama Islam.

Sisipan ajaran agama ini dimanfaatkan sebagai sarana penyebaran serta pendidikan agama Islam.

Jadi selain terhibur dengan pertunjukan tarinya, masyarakat juga akan mendapat pembelajaran tentang agama dan semangat perjuangan.

3. Memberi Nilai-Nilai Kehidupan

Begitu banyak cerita persoalan hidup yang disampaikan dalam tarian berkelompok ini.

Hal ini dimaksudkan dengan tujuan agar masyarakat Aceh mendapat petunjuk solusi dari masalah yangs edang dihadapi dalam kehidupan sehari-harinya.

Semua fungsi Tari Seudati tersebut akan tersalurkan dalam sekali pertunjukan.

Sehingga dalam satu kali pertunjukan, begitu banyak pesan dan makna yang tersampaikan.

Komponen Tari Seudati

Komponen Tari Seudati

Ada beberapa komponen yang wajib ada dalam sebuah pertunjukan tari asal Aceh ini, yakni sebagai berikut.

1. Penari

Umumnya Tari Seudati terdiri dari 8 orang pria yang akan menjadi pemain utama.

Dari 8 penari tersebut salah satu menjadi pemimpin tarian yang disebut dengan syeikh.

Kemudian satu orang yang membantu syeikh. Kemudian ada 2 orang yang membantu di bagian kiri atau biasa disebut apeet wie.

Selanjutnya ada satu orang pembantu yang posisinya di bagian belakang atau apeet bak dan 3 orang pembantu biasa.

Menariknya, selain para pemain utama ini, ada juga 2 orang penyanyi. Para penyanyi inilah yang bertugas mengiringi tarian atau disebut aneuk syahi.

2. Pengiring Tarian yakni Musik dari Tubuh

Tahukan Anda Jika pertunjukan Tari Seudati tidak menggunakan alat musik apapun? Yups,

tarian ini hanya mengandalkan bunyi dari tepukan tangan ke pinggul dan dada, petikan jari serta hentakkan kaki pada lantai.

Selain itu, ada juga nyanyian dari penari yang mengiringi setiap gerakan seudati. Gerakan demi gerakan tari akan dibawakan sesuai tempo dan irama lagu yang dinyanyikan.

Beberapa gerakan pada tarian ini begitu penuh semangat dan dinamis.

Ada pula beberapa bagian gerakan yang terlihat kaku. Hal ini sengaja dilakukan untuk menekankan kesan keperkasaan serta kegagahan para penari Seudati.

Sementara tepukan tangan ke perut dan dada dilakukan untuk memperlihatkan kesan kesombongan serta sikap kesatria pria-pria Aceh.

3. Busana Tarian

Untuk busana yang dikenakan para penari saat pertunjukan ialah celana panjang dan kaos oblong panjang ketat berwarna putih.

Selain kostum utama ini, ada pula kain songket yang dililitkan di pinggang penari sampai bagian paha.

Tak lupa penari juga mengenakan ikat kepala berwarna merah atau yang biasa disebut tangkulok, rencong yang disematkan pada pinggang dan sapi tangan berwarna.

Gerakan Tari Seudati

Gerakan Tari Seudati

Jika diamati, gerakan Tari Seudati ini sebenarnya lebih menjurus ke gerakan yang dinamis dan cenderung bebas.

Para penari tak begitu terpaku pada gerakan, namun tetap menjunjung tinggi kekompakan dari semua anggota tari.

Kesan yang tampak dari gerakan tari ini juga lebih memperlihatkan keperkasaan dan kegagahan para pria Aceh.

Sehingga meskipun tanpa menggunakan alat musik pengiring, pertunjukan tari tradisional ini terlihat begitu seru.

Pola Lantai

Tarian seudati ini dipentaskan dalam beberapa babak dengan masing-masing mempunyai ciri khas tersendiri.

Babak tersebut adalah Babak Glong, Babak Saleum, Babak Likok, Babak Saman, Babak Kisah, Babak Cahi Panyang, Babak Lanie dan penutup.

Sementara itu, pola lantai dalam tarian Aceh ini diantaranya adalah Puto Taloe, Lidah Jang, Lang-Leng, Bintang Buleun, Tampong, Binteh, Tulak Angen, Dapu dan terakhir adalah Kapai Teureubang.

Pola lantai tersebut mengacu kedalam babak-babak yang ada dalam tarian ini.

Perkembangan Tari Seudati

Perkembangan Tari Seudati

Hingga saat ini, Tari Seudati masih terus dikembangkan dan dilestarikan oleh masyarakat Aceh khususnya.

Ada beberapa variasi dan kreasi pada gerakan tari yang kerap ditampilkan pada pertunjukannya sehingga memberikan kesan baru dan lebih menarik.

Walau begitu, pertunjukan tari yang sudah mendapat kreasi tetap tak kehilangan keaslian serta ciri khasnya.

Seperti tarian Seudati yang kerap dipertunjukkan pada acara pernikahan, dimana gerakan divariasikan sedikit lebih lembut dan memperlihatkan suka cita atas pernikahan kedua mempelai.

Tarian Seudati ini kerap ditampilkan di berbagai acara adat, acara kebudayaan dan acara perayaan.

Bahkan penampilan Tari Seudati kerap kali bukan hanya menjadi sarana hiburan, namun juga kerap diperlombakan antar tim.

Perlombaan semacam ini menjadikan masyarakat Aceh semakin antusias dalam menikmati pertunjukan tari bahkan ikut serta dalam perlombaan tersebut.

Yang paling membanggakan, Tari Seudati juga sudah banyak dikenal di luar daerah bahkan luar negeri.

Hal ini beriringan dengan semakin populernya tarian khas Aceh lainnya, yakni tari Saman.

Kesimpulan

Tari seudati merupakan tarian yang muncul dan berkembang di provinsi Aceh dan masih cukup terkenal lho hingga saat ini.

Tarian ini salah satu icon kebanggaan Nanggroe Aceh Darussalam di samping tari saman. Sejarah tarian ini sudah ada semenjak kemunculan agama Islam di wilayah Aceh.

Kemunculan di wilayah Piere dan Aceh Utara disebut-sebut menjadi cikal bakal dari tarian seudati ini. Keunikan kesenian ini terlihat dari nuansa gembira dalam pementasan.

Meskipun tidak ada properti yang berlebihan, namun pakaian serta ikat kepala (tangkulok) cukup menggambarkan ciri tarian ini.

Disamping itu senjata rencong yang diselipkan di pinggang para penari seolah menggambarkan bahwa kesenian tersebut merupakan kesenian dari provinsi Aceh.

Itulah penjelasan lengkap tentang sejarah, asal mula penggunaan nama Seudati, fungsi tarian, komponen tarian hingga perkembangan Tari Seudati baik di daerah Aceh maupun di Indonesia.

Demikian dari kami theinsidemag.com semoga bermanfaat dalam pembelajaran Anda. Silakan berikan kami feedback dari materi diatas.

Kusuma Hamba Allah pengejar surga yang ingin menjadi orang bermanfaat bagi umat muslimin dan muslimat di dunia. Suka travelling dan wisata kuliner.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *